Oleh: Nuril Anwar Abadallah*
Adalah menjadi pengetahuan umum, bahwa dengan media informasi (mading, buletin, koran, dll), seseorang akan mengetahui keinginan atau aspirasi yang ingin di sampaikan oleh seorang penulis kepada khalayak ramai. Namun, ironis sekali ketika seorang penulis sudah bersusah payah merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat sehingga membentuk sebuah paragraf, menjadi sia-sia. Pasalnya, tulisan yang dibuat dan diletakkan di MADING, hanya menjadi pelengkap saja. Jarang sekali baik dari kalangan siswa sendiri dan bahkan dari kalangan guru sekalipun, yang berkenan meluangkan waktunya untuk membaca sebuah hasil karya para siswanya. Kalau pun ada dari kalangan siswa yang gemar membaca, mungkin hanya Anda saja yang termasuk kategori itu. Kalau dari kalangan guru, yang termasuk kategori gemar membaca, barangkali hanya Anda saja yang begitu (gemar membaca red), yang lain tidak.
Di sela-sela memberikan penjelasan di kelas saya (XII MA Nurut Taqwa), ada seorang guru yang pernah mengeluarkan sebuah statemen lucu, tapi ngenak (paling tidak menurut saya pribadi), “Kalau misalnya ada seorang guru yang mengajar ekonomi, tapi ekonominya sendiri masih morat-marit, bagaimana kelak siswanya bisa sukses dalam menejerial keuangannya? Atau misalnya ada seorang guru yang mengajar bahasa, tapi bahasanya sendiri masih banyak yang tidak baku dan atau bahasanya kurang sistematis dan semacamnya, lantas bagaimana dengan siswanya?”. Nah, maka kalau dianalogikan dengan statemen di atas, mengapa minat baca semua siswa yang berada di bawah naungan Pon-Pes Nurut Taqwa sangat minim sekali, -barangkali gurunya juga begitu. Sebab menjadi hal yang lucu sekali ketika seorang siswa disuruh rajin membaca agar pintar, berwawasan luas dan lain semacamnya, guru yang bersangkutan tidak pernah tuh kelihatan pegang buku, atau paling tidak melirik karya siswa di mading. Akan tetapi, saya pribadi khusnu adz-dzan saja kepada mereka, siapa tahu wawasan mereka memang sudah jauh melebihi wawasan yang kita miliki, sehingga tidak perlu lagi untuk sekadar baca-baca.
Pun demikian, orang sekaliber Gus Dur saja yang keluasan wawasannya diakui Nasional-Internasional, dalam keterbatasan indera penglihatannya, masih saja menambah pengetahuannya kok. Seperti yang santer diberitakan pada waktu menjelang beliau wafat, ajudan Gus Dur bercerita “Sebelum beliau wafat, seperti biasa, beliau meminta saya untuk mengoperasikan audio-booknya dan beliau sempat mengoreksi kesalahan bacaan saya ketika membaca nama seorang tokoh dalam audio-booknya tersebut”. Tapi, lagi-lagi, khusnu adz-dzan sajalah kepada mereka, jangan su’u adz-dzan, sebab biarpun memang kenyataannya tidak seperti yang kita duga, kita tidak bisa berbuat banyak tuh. Mungkin kita hanya bisa gigit jari, itu pun (gigit jari red.) kalau kita menyampaikan aspirasi dengan lembut dan tersirat. Beda halnya ketika kita menyampaikan sebuah aspirasi dengan nada yang agak keras -saja-, bisa-bisa kita dimarahi –cuma tambah kurang etis kalau sampai disertai pukulan, jeweran, dll. Padahal, penyebab seseorang menyuarakan aspirasinya dengan lantang, bukan semata-mata dia seorang pembangkang, melainkan aspirasi yang disampaikan dengan cara yang halus (tersirat) dan semacamnya, tidak membawa perubahan yang signifikan, dianggapnya hanya angin berlalu oleh pihak yang dituju.
Maka menjadi konsekwensi logis, ketika apatisme semua elemen anggota masyarakat yang berada di bawah naungan PP. Nurut Taqwa terhadap mading cukup tinggi, penyampaian aspirasi seorang idealisme akan bertendensi ke arah yang lebih lantang (vulgar). Sebab tidak ada bedanya antara aspirasi yang disampaikan dengan cara yang lembut dan yang keras, keduanya sama-sama tidak diperhatikan. Oleh sebab itu, aspirasi yang disampaikan dengan nada yang cukup tinggi menjadi kepuasan tersendiri bagi penulis sebuah karya tulis.
Padahal kalau kita analisa lebih mendalam, keberadaan mading di setiap instansi pendidikan di Nurut Taqwa sangat menguntungkan bagi semua pihak. Sekurang-kurangnya keuntungan itu ada pada dua hal. Pertama. Bagi siswa, kita yang berada di dalam ruang lingkup pesantren tetap bisa menyuarakan keinginan atau aspirasi kita terhadap atasan kita, meskipun tidak dengan jalan konfrontasi. Sebab, dalam dunia kepesantrenan (budaya), aspirasi yang disampaikan secara langsung kepada pihak yang dituju, acapkali dipandang sebagai sebuah pembangkangan, padahal hal semacam itu sungguhlah tidak bisa dibenarkan.
Ma’af, saya memang bukan mufassir al Quran, dalam analisa saya, pada saat prosesesi penciptaan Khalifah fi al-ardhi, Allah berfirman, (Iingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”)[1], malaikat malah nyeletuk kepada Tuhan, ("Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?")[2]. Kalau saya memaknai dialog antara Tuhan dan malaikat di atas, ketika malaikat menimpali firman Tuhan, bukan berarti mereka membangkan kepada-Nya, melainkan interupsi tersebut merupakan bentuk sayangnya malaikat kepada Tuhan. Mereka tidak ingin mereka (khalifah) menodai keesaan-Nya.
Jadi, ibrah yang dapat kita ambil dari dialog Tuhan dan malaikat, adalah bentuk konfrontasi tidak selamanya boleh dimaknai sebagai bentuk pembangkangan, oposisi atau separatisme, akan tetapi terdapat banyak hal positif lainnya yang tersirat di dalamnya.
Terkait dengan hal itu, maka mading menjadi lahan yang potensial bagi siswa untuk menyalurkan aspirasi, kegemaran di bidang tulis-menulis, atau menyalurkan hobi membaca.
Kedua. Adalah bagi guru. Sebenarnya mading yang dikelolah oleh para aktifis sekolah, bisa dijadikan sebagai tolok ukur dan sebagai media untuk memberikan apresiasi kepada siswa, sekaligus seorang guru bisa mengetahui keinginan/aspirasi yang diusung oleh siswanya. Sehingga kalau dirinci adalah sebagai barikut:
a. Mading sebagai tolok ukur. Maksudnya adalah dengan keberadaan mading yang dipenuhi oleh kreasi siswa, seorang guru akan mampu untuk menilai seberapa luas kreatifitas dan wawasan yang dimiliki oleh para siswanya.
b. Mading sebagai media untuk memberikan apresiasi. Maksudnya adalah mading yang dipenuhi oleh kreatifitas siswa, baik berupa opini, pantun, syair, humor, dll, seorang guru bisa mengarahkan kira-kira ke arah mana siswanya akan diarahkan, melihat kreatifitas yang mereka miliki. Misalnya, ada seorang siswa yang memiliki kecakapan dalam membuat gubahan syair, seorang guru bahasa indonesia bisa mengarahkan kepada sastra Indonesia, setelah ia lulus nanti. Atau siswa yang pandai dalam membuat karikatur, siswa tersebut kan bisa terus dibantu untuk mengembangkan kemampuannya, sehingga tidak menutup kemungkinan setelah siswa tersebut keluar dari sekolah ini bisa direkrut oleh salah satu media untuk membuat karikatur di media tersebut. Juga misalnya melihat siswanya yang gemar dalam menelorkan gagasan-gagasan segar (anggaplah saya begitu. hehehe), seorang guru kan bisa mengarahkan siswa tersebut ke jalan yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Sehingga menjadi hal yang mungkin sekali kelak siswa tersebut akan menjadi seorang advokat atau pemikir yang cukup berpengaruh di taraf Nasional, atau bahkan Internasional. Betapa bangganya sekolah ini !
c. Mading sebagai media mengintropeksi diri. Maksudnya adalah disadari atau tidak, seorang guru tidak akan terhindar dari kekhilafan. Oleh sebab itu, kadangkala seorang siswa menyampaikan tegurannya (ingat, teguran itu tak selamanya berarti pembangkangan) lewat media (juga buletin). Sehingga guru yang bersangkutan bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan yang dimilikinya.
Melihat betapa pentingnya media informasi dalam kehidupan kita, adalah menjadi keharusan bagi kita semua untuk mengapresiasi dan mengembangkan sebaik mungkin media yang kita punya. Tentunya, kita mulai dari diri kita masing-masing, baik dari siswa, terlebih guru. Sebab seorang guru itu menjadi prototipe bagi semua siswanya. Kalau prototipe masih perlu direpair, APA KATA DUNIA????
Semoga bermanfaat. Amin...
*Calon Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya
0 komentar:
Poskan Komentar